Thursday, April 21, 2016

PENGENALAN HAMA TANAMAN HORTIKULTURA

PENGENALAN HAMA TANAMAN HORTIKULTURA
(Laporan Praktikum Pengendalian Hama Tanaman)






Oleh

Indah Dewi Saputri
1414121109
Kelompok 7














LABORATORIUM ILMU HAMA TANAMAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016





I.                   PEMBAHASAN


1.1         Thrips sp
Panjang thrips sekitar 1-2 mm, badanya berwarna hitam, kadang ada titik merah atau garis merah, datar dan langsing. Sementara itu warna thrips yang masih muda ada yang pucat keputihan, kekuningan atau jernih, serta kulit mengkilap jingga atau merah. Bagian mulut thrips digunakan untuk menusuk dan mengisap. Thrips mengisap cairan dari permukaan daun sehingga akan terjadi  bercak yang berwarna putih, seperti perakBerupa bintik hitam pada tepi mahkota bunga dan merusak bentuk bungaSerangan pada daun menyebabkan jaringan daun bagian bawah habis dan yang tersisa hanya jaringan daun bagian atas yang berwarna putih terang(Tarumingkeng,1994).

Pengendalian hama ini dilakukan dengan:
a.       Kultur teknis, bagian tunas yang terserang dipotong, kemudian dibakar atau ditimbun dalam tanah.
b.      Kimiawi, penggunaan insektisida secara efektif, sesuai anjuran dan bijaksana.

Hama thrips sangat mudah untuk ditemukan di areal pertanaman. Bentuk tubuhnya langsing dengan panjang sekitar 1-2 mm, berwarna hitam dengan bintik-bintik atau garis merah. Telur thrips berbentuk oval. Telur menetas menjadi nimfa, tidak bisa terbang dan hanya meloncat-loncat. Thrips muda (nimfa) biasanya berwarna agak keputihan, kekuningan, hingga kemerahan. Serangga dewasa (imago) berwarna kuning pucat, coklat atau hitam. Thrips akan berubah warna menjadi lebih gelap pada suhu rendah. serangga betina memiliki dua pasang sayap kecil dan terdapat rambut berumbai di bagian samping tubuhnya,

sedangkan serangga jantannya tidak bersayap. Thrips memiliki mulut asimetris yang berfungsi untuk menusuk dan menghisap tanaman, terutama pada bagian daun muda, kuncup atau tunas, bunga, dan buah muda. Masing-masing tanaman memiliki ketahanan yang berbeda terhadap spesies thrips, tergantung pada ketebalan epidermisnya (Borror,1996).

Gejala yang ditimbulkan oleh hama ini adalah sebagai berikut :
Dampak langsung serangan : Gejala awal pada permukaan bawah daun berwarna keperak – perakan mengkilat, dan pada serangan lanjut daun akan berwarna coklat, hingga proses metabolisme akan terganggu. Selanjutnya pada daun akan menjadi keriting dan keriput . Pada serangan berat, daun, pucuk serta tunas menggulung ke dalam dan timbul benjolan seperti tumor dan pertumbuhan tanamanterhambat, kerdil bahkan pucuk mati. Serangan pada buah menimbulkan bercak – bercak kecoklatan pada pangkal buah, sehingga kualitas buah sangat menurun.

Dampak secara tidak langsung : Trips merupakan vektor penyakit virus mosaik dan virus keriting. Gejala serangan awal timbul akibat hama menghisap cairan permukaan bawah daun dan atau bunga ditandai oleh bercak – bercak keperakan mengkilat, daun akan menjadi keriting atau keriput. Jika serangan terjadi pada awal pertanaman maka akan terjadi gejala fatal berupa penyakit kerdil (dwarfing) dan pada akhirnya layu dan kemudian akan mati (Pracaya,2008).

Cara pengendalian yang dilakukan untuk mengendalikan hama ini adalah :
- Secara kultur teknis, dengan mempraktekkan penyiapan bedengan bermulsa plastik hitam perak, mengatur pergiliran (rotasi) tanaman yang bukan sefamili, dan mengatur waktu tanam yang baik (tepat).
- Secara biologi (hayati) dengan memanfaatkan musuh – musuh alami hama thrips, yaitu kumbang Coccinellidae, tungau predator, kepik Anthocoridae, dan kumbang Staphulinidae.
Memasang perangkap perekat hama, misalnya dengan menggunakan Insect Adhesif Trap Paper (IATP) berwarna kuning.
- Monitoring hama untuk menentukan Ambang Kendali. Sebagai indikator, pada saat ditemukan 10 nimfa/ daun atau kerusakan tanaman mencapai 15 %, perlu dilakukan penyemprotan insektisida.
 Secara kimawi, dengan penyemprotan insektisida secara selektif, misalnya Mesurol 50 WP, Pegasusu 500 SC atau Perfekthion 400 EC, Agrimec 18 EC, Confidor 200 SL, Curacron 500EC, , pada waktu sore hari (Pracaya,2008).

1.2         Ulat Bawang (Spodoptera exigua)
Betina pada ulat grayak memiliki ukuran panjang badan 20 - 25 mm, berumur 5 - 10 hari.  Ulat grayak betina dapat bertelur sampai dengan 1.500 butir.  Telur tersebut diletakkan secara berkelompok pada permukaan bawah daun atau rerumputan rata-rata 100 butir, ditutupi sisik yang berwarna kelabu.  Larva yang baru muncul sangat aktif bergerak sambil makan dengan cara meraut bagian hijau daun pada ujung daun dan beristirahat pada tepi daun muda yang digulung sehingga tidak udah ditemukan  Selain makan daun, ulat grayak juga memotong pangkal batang tanaman muda dan tangkai malai. Kerusakan berat biasanya terjadi setelah periode kering yang cukup lama yang diikuti dengan hujan besar (Rahmawati, 2012).

Pengendalian Ulat Grayak (Spodoptera sp.) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a.         Pengendalian secara kultur teknis

            Beberapa upaya teknis untuk mengurangi serangan ulat grayak adalah melakukan sanitasi lahan,                     pengolahan tanah (pencangkulan dan penggaruan), dan penggiliran tanaman.
b.        Pengendalian secara mekanis
           Pengendalian ini dapat dilakukan dengan penangkapan secara manual, terutama terhadap larva.   
c.         Pengendalian secara biologi
           Pengendalian ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami dari ulat grayak.  Terdapat                     beberapa musuh alami ulat grayak baik dari jenis predator, parasitoid, maupun patogen.
d.        Pengendalian secara kimiawi
Ulat grayak tergolong jenis ulat yang mudah resisten terhadap suatu jenis bahan aktif                     pestisida.  Oleh karena itu, penggiliran bahan aktif pestisida setiap kali penyemprotan merupakan       kunci keberhasilan pengendalian Spodoptera sp..Penggantian bahan aktif dapat memutus resistensi     ulat grayak terhadap pestisida(Rahmawati, 2012).

1.3         Kutu Putih Pada Pepaya(Paracoccus marginatus)
Kutu putih pepaya (Paracoccus marginatus) adalah hama polifag dan paling banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman pepaya. Selain pada tanaman pepaya, hama ini menimbulkan kerusakan berat pada tanaman kamboja, kembang sepatu, dan ubi kayu (Walker et al. 2003). Secara umum, tumbuhan inang P. marginatus meliputi anggota famili Acanthaceae, Annonaceae, Apocynaceae, Arecaceae, Caricaceae, Convolvulaceae,  Euphorbiaceae,  Fabaceae,  Lauraceae,  Malpighiaceae, Malvaceae, Poaceae, Polygonaceae, Rubiaceae, Rutaceae, Solanaceae, Sterculiaceae, dan Verbenaceae.

Populasi kutu putih pepaya apabila tidak dikendalikan dan ditekan dapat menyebabkan hasil panen menurun hingga 58%. Keberadaan populasi kutu putih pepaya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor abiotik dan biotik, seperti temperatur, kelembapan, kesuburan pertumbuhan  tanaman  dan ukuran  tanaman. Hama kutu putih biasanya bergerombol sampai puluhan ribu ekor. Mereka merusak dengan cara mengisap cairan. Semua bagian tanaman bisa diserangnya dari buah sampai pucuk. Serangan pada pucuk menyebabkan daun kerdil dan keriput seperti terbakar. Hama ini juga menghasilkan embun madu yang kemudian ditumbuhi cendawan jelaga sehingga tanaman yang diserang akan berwarna hitam (Amarasekare, 2008).

   Pengendalian 
    1. Eradikasi/pemusnahan bagian yang terserang dan ditimbun/dikubur.
    2. Sanitasi lingkungan/pengelolaan pertanaman secara terpadu.
    3. Tidak menanam tanaman inang  disekitarnya
    4. Penyemprotan  insektisida  ber bahan  MIPC fipronil, atau sesuai dengan anjuran (Amarasekare, 2002).

Klasifikasi kutu ini yaitu:
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class :Insecta
Ordo : Hemiptera
Family :Pseudococcidae
Genus :Paracoccus
Species :Paracoccus marginatus
(Pracaya, 2007).

Kutu putih pepaya Paracoccus marginatus merupakan hama baru yang menjadi masalah penting pada pertanaman pepaya di Indonesia.  Serangga ini diketahui keberadaan-nya pertama kali pada bulan Mei 2008 pada tanaman pepaya di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat (Rauf 2008 dalam Pramayudi et al, 2012). Paracoccus. marginatus termasuk jenis kutu-kutuan yang seluruh tubuhnya diselimuti oleh lapisan lilin berwarna putih.  Tubuhnya berbentuk oval dengan embelan seperti rambut-rambut berwarna putih dengan ukuran yang pendek.  Hama ini terdiri dari jantan dan betina, dan memiliki beberapa fase perkembangan yaitu fase telur, pradewasa (nimfa), dan imago.  Telur P. marginatus berbentuk bulat berwarna kuning kehijauan dan ditutupi oleh massa seperti kapas dan akan menetas dalam waktu 10 hari setelah diletakkan  Hama kutu putih biasanya bergerombol sampai puluhan ribu ekor. Mereka merusak dengan cara mengisap cairan.  Gejala yang ditimbukan akibat serangan hama ini yakni daun kerdil dan keriput seperti terbakar.  Hama ini juga menghasilkan embun madu yang kemudian ditumbuhi cendawan jelaga sehingga tanaman yang diserang akan berwarna hitam.

Pengedalian kutu ini dapat dilakukan dengan cara eradikasi/pemusnahan bagian yang terserang dan ditimbun/dikubur, sanitasi lingkungan/pengelolaan pertanaman secara terpadu, tidak menanam tanaman inang disekitarnya, dan penyemprotan insektisida berbahan MIPC fipronil, atau sesuai dengan anjuran (Pracaya, 2007).

1.4         Kutu Putih Tanaman Nanas (Dysmicoccus brevipes)
Dysmicoccus brevipes adalah kutu putih yang berbentuk oval, berwarna agak kehijau- hijauan, abu-abu atau kekuning-kuningan. Kutu ini mempunyai tipe alat mulut menusuk menghisap. Serangga ini disebut kutu putih karena seluruh tubuhnya ditutupi oleh lilin yang dikeluarkan oleh trilocular pore pada kutikula melalui proses sekresi. Lilin-lilin ini merupakan salah satu ciri morfologi untuk mengidentifikasi spesies imago betina. Imago betina tidak aktif bergerak dan berkembang setelah melalui proses ganti kulit (moulting).Kutu putih atau Dysmicoccus brevipes ini memiliki badan yang lunak, berbentuk bulat memanjang, dan segmen tubuhnya jelas. Kutu ini mempunyai bagian mulut yang berkembang menjadi stilet, tungkainya berkembang sempurna dan dalam waktu satu tahun kutu putih ini dapat menghasilkan 6-7 generasi.

Beberapa spesies anggota famili Pseudococcidae ini merupakan hama penting pada tanaman pangan, tanaman hias, maupun buah – buahan. Hama ini menyerang dengan menusukkan stiletnya lalu menghisap cairan dalam pembuluh tersebut. Tubuhnya berukuran sangat kecil dapat bersembunyi di bagian pangkal daun, di kaliks, diantara pelepah daun dan batang, makhota bunga, serta mampu bersembunyi di lekukan bagian tanaman yang terserang.

Dysmicocus brevipes berwarna merah muda dan lebih dikenal dengan sebutan mealybugnanas. Serangga ini melewati tiga tahap larva sebelum menjadi dewasa. Imago betina D. brevipesberkembangbiak secara partenogenesis yaitu dapat melahirkan nimfa tanpa dibuahi jantan terlebih dahulu. Betina dewasa dapat menghasilkan keturunan sekitar 234-1000crawler. Siklus hidup betina dewasa bervariasi dari 31-80 hari, rata-rata sekitar 56 hari. Bentuk biseksual kutu putih terdapat di Brasil dan Malaysia. Spesies ini tidak bertelur, sebaliknya ovovivipar yang berarti hidup muda sebagai larvaImago jantan dapat hidup selama 1-3 hari, sedangkan imago betina dapat hidup lebih lama sekitar 17- 49 hari.
Larva yang lebih dikenal dengan sebutan “crawler” adalah tahap utama penyebaran spesies kutu putih. Larva mempunyai rambut panjang yang membantu penyebarannya melalui angin. Larva tetap berlindung di bawah tubuh imago dewasa sebelum diselubungi oleh lapisan lilin. Tahap larva berlangsung selama 10-26 hari untuk instar pertama, 6-22 hari untuk instar kedua dan 7-24 hari untuk instar ketiga. Periode larva total bervariasi dari 26-55 hari, dan rata-rata sekitar 34 hari. Kutu putih jantan memiliki dua instar nimfa dengan masa perkembangan 9.9 dan 5.8 hari. Stadia prapupa dan pupa masing-masing memerlukan waktu 2.5 dan 3.7 hari. Perkembangan dari instar pertama sampai dewasa baik jantan maupun betina memerlukan waktu 24 hari.
Populasi kutu putih pada suatu lokasi pertanaman sangat dipengaruhi oleh kondisi keanekaragaman inang, kondisi habitat dan musim . Selain itu populasi kutu putih pada tanaman berbeda tergantung bagian tanaman yang diserang dan suhu udara. Kelimpahan populasi dan penyebaran hama pada tanaman sangat penting untuk dipelajari untuk mengungkapkan berbagai hal tentang ekologinya. Hal ini diperlukan dalam upaya pencegahan perkembangan yang lebih luas dan pengembangan upaya pengendaliannya.

Distribusi :
Penyebaran hama ini dilaporkan meluas di berbagai negara seperti: Fiji, Jamaica, Australia, Afrika, Mexico, Micronesia, Taiwan dan Asia Tenggara. D. brevipesberasal dari daerah tropik Amerika dan menyebar luas ke seluruh wilayah zoogeografi, terutama daerah tropik dan subtropik. D. brevipes merupakan kutu putih yang umum hidup di Amerika Tengah dan Amerika Utara. Kutu putih jenis ini terdapat juga di Eropa, Asia, Afrika, Hemisphere bagian barat, Oceania dan Australia. Hama ini pernah menimbulkan masalah serius di beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina dan Thailand. Hama ini juga terdapat di pulau Jawa. Kutu putih ini dilaporkan telah menyebar ke beberapa daerah di Indonesia seperti: Bogor dan Subang (Jawa Barat), Simalungun (Sumatera Utara), Blitar (Jawa Timur). Penyebaran kutu putih sangat mudah tersebar melalui bibit hasil perbanyakan tanaman secara vegetatif yaitu: mahkota, tunas. Kutu putih dapat disebarkan oleh angin, melalui media pembawa seperti bibit, orang dan terbawa burung.

Gejala Serangan :
Penyebaran kutu Dysmicoccus dapat disebabkan oleh angin, bibit, manusia, serangga lain dan burung. Keberadaan kutu yang cukup tinggi dan bersifat polipag mempunyai potensi menyebar yang sangat cepat. Sifat biologisnya merusak tanaman dengan cara menusuk menghisap cairan tanaman serta mengeluarkan racun, mengakibatkan terjadinya khlorosis, kerdil, malformasi daun, daun muda dan buah rontok, banyak menghasilkan eksudat berupa embun madu sampai menimbulkan kematian tanaman. Kutu putih ini memiliki potensi merugikan secara ekonomis yang cukup tinggi.
   
Pengendalian :
  1. Cara Kultur Teknis
- Membajak tanah
- Mengurangi kepadatan buah
- Pembungkusan buah
- Membakar sisa tanaman
- Membersihkan Gulma
  1. Cara Biologi atau Hayati
- Menggunakan musuh alami seperti parasitoid dan predator. Beberapa parasitoid antara lain Aenasius cariocus,A. colombiensisAnagyrus ananatisGahan,Euryhopauus propinquusKerrich, Hambletonia pseudoccinadan Ptomastidae abnormis. Predator yang digunakan untuk    mengendalikan kutu putih yaituCryptolaemus montrouzieriMulsant, Scymnus(Pullus) unicatusSicard dan Scymnus pictus.
  1. Cara Kimiawi
- Mencegah semut dengan memberi kapur anti semut
- Menyemprot dengan insektisida dan fungisida yang efektif dan terdaftar (Lestari, 2014).

1.5         Hama Ulat Pada Umbi Kentang (Phtorimaea operculella)
Gejala serangan
Gejala serangan pada daun adalah jaringan epidermis daun yang melipat  engan warna merah kecoklatan atau bening transparan membentuk gulungan – gulungan. Kalau lipatan ini dibuka, ada jalinan benang dan terdapat larva idalamnya. Gulungan daun ini sering juga ditemukan pada bagian pucuk (titik tumbuh). Apabila tidak dikendalikan, intensitas kerusakan dapat mencapai  hampir 100% terutama pada musim kemarau. Gejala serangan pada umbi adalah adanya sekelompok kotoran berwarna putih kotor sampai merah tua pada kulit umbi. Bila umbi di belah kelihatan larva dan lubang korok (saluran) yang dibuat oleh larva sewaktu memakan daging umbi. Kerusakan berat sering terjadi pada umbi kentang untuk bibit yang disimpan di dalam gudang selama 3 – 5 bulan .

Inang Lainnya
Tomat, datura, bit, terung, dan tembakau

Morfologi/Bioekologi
Serangga dewasa berupa ngengat kecil yang berwarna coklat kelabu, ngengat aktif pada malam hari. Pada siang hari ngengat bersembunyi di bawah helaian
daun atau pada rak – rak penyimpanan umbi di gudang kentang. Seekor ngengat betina mampu menghasilkan telur sebanyak + 98 butir. Lama stadia telur berkisar antara 10 – 16 hari. Telur berukuran kecil agak lonjong, berwarna putih
kekuningan dan biasanya diletakkan pada permukaan bawah daun, pada batang atau di atas umbi yang tersembul di permukaan tanah. Digudang penyimpanan,
telur hampir selalu di letakkan di atas umbi. Lama stadia telur 5 – 11 hari.
Larva berwarna putih kelabu dengan kepala coklat tua. Permukaan atas (dorsal) memiliki bayangan hijau terang atau merah muda. Larva memakan permukaan
atas daun dan cabang atau melipat daun dan hidup dibawah epidermis daun. Larva juga melubangi umbi di kebun dan di gudang kentang. Lama hidup 21 – 35 hari. Panjang larva sekitar 1 cm . Pupa (kepompong) terdapat dalam kokon yang
tertutup butiran tanah berwarna kecoklatan. Di gudang pupa menempel pada bagian luar umbi (biasanya disekitar mata tunas) atau pada rak – rak penyimpanan kentang. Lamanya daur hidup 4 – 6 minggu .

Pencaran
Di dunia hama ini telah masuk di benua Eropa, Asia, Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara dan Oceania. Di Indonesia hama ini di laporkan terdapat diseluruh wilayah seperti di pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya.


Pengendalian
a. Kultur Teknis
Penggunaan varietas tahan seperti varietas Granola, Cipanas, dan Desiree
Pemilihan umbi bibit yang sehat dan bebas dari serangan P. operculella.
Pembuatan guludan setinggi 40 cm untuk menutupi umbi kentang yang terbuka di permukaan tanah akan menghindari peletakan telur pada umbi oleh ngengat. Telur ngengat yang terbawa umbi menyebabkan hama ini berkembang di gudang.
Menggunakan mulsa jerami atau mulsa plastic hitam perak di guludan sehingga dapat menghalau serangan P. operculella dimana mulsa plastic dapat menghalangi imago P. operculella mencapai tanah pada saat akan menjadi pupa.

b. Fisik/Mekanik
Pemasangan feromonoid seks dilapangan sebanyak 40 buah perangkap/ha, dan jika dalam gudang penyimpanan 2 buah perangkap/10 m2.
Daun yang terserang penggerek umbi dipetik, dikumpulkan dalam kantung plastik kemudian dimusnahkan (dikubur atau dibakar bersama plastiknya). Ulat pemakan daun dikumpulkan dan dimusnahkan.
c. Biologi
 Pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid Pristomerus sp., Apanteles sp., Temelucha sp., predatorCopidosoma sp., dan patogen serangga Erynia aphitis
d. Kimia
Jika populasi larva P. operculella telah mencapai ambang kendali (25 ngengat / trap pada MH, 100 ngengat / trap pada MK atau 20 larva / 10 tanaman contoh), tanaman kentang disemprot dengan insektisida kimia sintetik (Siswanto, 2013).



II. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa:
     1.      Tanaman hortikultura memiliki banyak hama dengan tipe mulut haustelata maupun mandibulata.
     2.      Serangan hama dapat ditanggulangi dengan pengendalian, baik secara mekanis, kultur teknis, hayati,              maupun kimiawi.



DAFTAR PUSTAKA


Amarasekare, K.G., C.M. Mannion, L.S. Osborne,  and  N.D.  Epsky.  2008. Life History of Paracoccus marginatus (Hemiptera: Psudococcidae) on four host plant  spesies      under Laboratory     Condition.     Environ Entomol. 37(3): 630- 635.Awmack C.S.  &  S.R.  Leather,.  2002. Host Plant Quality and Fecundity in Herbivoro Insect.  Annu  Reu Entomol, 47: 817-844.

Borror, D. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Yogyakarta, UGM Press.
Lestari, T. 2014. Hama Kutu Putih Dysmicoccus brevipes (Cockerell).
POPT Ahli Pertama pada Balai Karantina Pertanian Kelas II. Gorontalo
Pracaya.  2007.  Hama dan Peyakit Tanaman.  Penebar Swadaya: Jakarta

Pracaya.2008.Hama dan penyakit Tanaman. Jakarta : Penebar Swadaya.
Rahmawati, R. 2012. Cepat & Tepat Berantas Hama & Penyakit Tanaman. Penerbit Pustaka Baru Press. Yogyakarta
Siswanto. 2013. Penggerek Umbi Kentang. http://pengenalanhama.blogspot.co.id/2013/08/penggerek-umbi-kentang-phthorimaea.html. Diakses pada tanggal 13 April 2016.


Tarumingkeng, R.C. 1994. Dinamika Populasi Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan dan Universitas Kristen Krida Wacana. Jakarta. http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi/content/104-pengendalian-hama-tikus-terpadu. Diakses pada tanggal 13 April 2016

Saturday, January 2, 2016

PENGENALAN ALAT LABORATORIUM MIKROBIOLOGI: Jurusan Agrotenologi Unila


Alat sederhana (gelas/ keramik) :
      1.      Cawan Petri




Cawan petri berfungsi untuk membiakkan (kultivasi) mikroorganisme. Medium dapat dituang ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup. Cawan petri tersedia dalam berbagai macam ukuran, diameter cawan yang biasa berdiameter 15 cm dapat menampung media sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan berdiameter 9 cm kira-kira cukup diisi media sebanyak 10 ml ( Indra, 2008).

     2.      Pipet Ukur


Pipet ukur merupakan alat untuk memindahkan larutan dengan volume yang diketahui. Tersedia berbagai macam ukuran kapasitas pipet ukur, diantaranya pipet berukuran 1 ml, 5 ml dan 10 ml. Cara penggunaanya adalah cairan disedot dengan pipet ukur dengan bantuan filler sampai dengan volume yang diingini. Volume yang dipindahkan dikeluarkan menikuti skala yang tersedia (dilihat bahwa skala harus tepat sejajar dengan mensikus cekung cairan) dengan cara menyamakan tekanan filler dengan udara sekitar (Mega, 2011).



     3.      Bunsen Burner


Bunsen berfungsi sebagai alat untuk mensterilkan bahan yang terbuat dari kaca dan juga dipakai mensterilkan alat lainnya seperti jarum ose dengan cara memanaskan, cara penggunaan bunsen yaitu dengan cara menyalakan sumbu yang terdapat pada Bunsen (Rovix, 2009).



     4.      Jarum Ose

Ose adalah batang kaca yang ujungnya terdapat kawat panjang, ada yang berbentuk lurus dan adapula yang bulat. Berfungsi untuk memindahkan atau mengambil koloni suatu mikrobia ke media yang akan digunakan kembali. Prinsip kerjanya yaitu ose disentuhkan pada bagian mikrobia kemudian menggosokkan pada kaca preparat untuk diamati(Sinta, 2013).


     5.      Mikro pipet

Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 μl. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette) antara 1μl sampai 20 μl atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 μl dalam penggunaannya, mukropipet memerlukan tip(Sinta, 2013).



     6.      Mortar & Alu

Mortal dan penumbuk (pastle) digunakan untuk menumbuk atau menghancurkan materi cuplikan, seperti daging, roti atau tanah sebelum diproses lebih lanjut (Sinta, 2013).



     7.      Jarum Ent

Jarum Ent berfungsi untuk memindahkan biakan untuk ditanam/ditumbuhkan ke media baru. Jarum Ent biasanya terbuat dari kawat nichrome atau platinum sehingga dapat berpijar jika terkena panas(Sinta, 2013).



      8.      Gelas Beker


Gelas beker digunakan sebagai tempat larutan, untuk memanaskan larutan, menguapan pelarut, pemekatan dan melarutkan zat zat sebelum diencerkan dalam labu takar. Gelas beker memiliki grade angka yang menunjukan volume, tetapi tidak direkomendasikan untuk digunakan sebagai pengukur volume (Widodo, 2010).



9     9 .      Pinset

Pinset memiliki banyak fungsi diantaranya adalah untuk mengambil benda dengan menjepit misalnya saat memindahkan cakram antibiotik(Sinta, 2013).

     10.  Rubber Bulb

Rubber buld terbuat dari karet sebagai bahan filler merupakan karet yang resisten bahan kimia. Filler memiliki 3 saluran yang masing-masing saluran memiliki katup. Katup yang bersimbol A (aspirate) berguna untuk mengeluarkan udara dari gelembung. S (suction) merupakan katup yang jika ditekan maka cairan dari ujung pipet akan tersedot ke atas. Kemudian katup E (exhaust) berfungsi untuk mengeluarkan cairan dari pipet ukur (Sinta, 2013).



     11.  Pipet Tetes

Pipet tetes digunakan untuk mengambil zat cair dalam jumlah kecil (bertetes-tetes). Teknik memegang pipet ini, pipet dipegang dengan tangan kanan ( lima jari bukan dua jari). Ibu jari memegang karet pemompa untuk mengambil dan melepaskan cairan dari pipet. Cara mengeluarkan cairan harus tetes demi tetes (Widodo, 2010).



      12.  Tabung Reaksi

Untuk menyimpan mikroorganisme dalam medium cair atau padat, alat pengenceran, untuk pengujian mikrobiologis(Sinta, 2013).


      13.  Erlenmeyer

Labu erlenmeyer berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan yang digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung aquades, kultivasi mikroba dalam kultur cair dan sebagainya. Labu erlemeyer terdapat beberapa pilihan berdasarkan volume cairan yang dapat ditampungnya yaitu 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 300 ml, 500 ml, 1000 ml dan sebagainya(Sinta, 2013).


      14.  PH Meter Universal

Merupakan sebuah alat elektronik yang digunakan untuk mengukur pH (kadar keasaman atau alkalinitas) ataupun basa dari suatu larutan (meskipun probe khusus terkadang digunakan untuk mengukur pH zat semi padat). PH meter yang biasa terdiri dari pengukuran probe pH (elektroda gelas) yang terhubung ke pengukuran pembacaan yang mengukur dan menampilkan pH yang terukur. Prinsip kerja dari alat ini yaitu semakin banyak elektron pada sampel maka akan semakin bernilai asam begitu pun sebaliknya, karena batang pada pH meter berisi larutan elektrolit lemah. Alat ini ada yang digital dan juga analog. Probe pH mengukur pH seperti aktifitas ion-ion hidrogen yang mengelilingi bohlam kaca berdinding tipis pada ujungnya. Probe ini menghasilkan tegangan rendah (sekitar 0.06 volt per unit pH) yang diukur dan ditampilkan sebagai pembacaan nilai pH (Anonim, 2014)


       15.  Kaca Preparat& Coverglass

Prinsip kerja dan fungsinya yaitu dengan meletakkan pada meja preparat pada mikroskop (Mega, 2011).


       16.  Gelas Ukur

Gelas ukur berfungsi untuk mengukur volume suatu cairan, seperti labu erlenmeyer, gelas ukur memiliki beberapa pilihan berdasarkan skala volumenya. Pada saat mengukur volume larutan, sebaiknya volume tersebut ditentukan berdasarkan meniskus cekung larutan tersebut(Sinta, 2013).
  




Alat Besar/ Elektronik :

       1.      Magnetic Stirrer

 Magnetic stirrer atau pengaduk magnetik adalah alat laboratorium yang bekerja berdasarkan bidang magnetik beputar untuk membuat  stir bar atau batang pengaduk yang tercelup didalam cairan menjadi berputar dengan sangat cepat sehingga mengaduk cairan tersebut hingga merata. Bidang  beputar tersebut dapat dibuat baik dengan magnet berputar atau dengan satu set eletktromanet statis yang  diletakkan dibawah bejana dengan cairan. Magnetic stirrer seringkali dilengkapi dengan lempengan pemanas untuk memanaskan cairan dalam bejana (sulaiman, 2013).


       2.      Colony Counter

Alat ini berguna untuk mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di dalam cawan karena adanya kaca pembesar. Selain itu alat tersebut dilengkapi dengan skala/ kuadran yang sangat berguna untuk pengamatan pertumbuhan koloni sangat banyak. Jumlah koloni pada cawan Petri dapat ditandai dan dihitung otomatis yang dapat di-reset menggunakan alat yang mirip dengan pena yang tersambung pada alat untuk mendeteksi jumlahnya (sulaiman, 2013).


       3.      Mikroskop Majemuk

Salah satu alat untuk melihat sel mikroorganisme adalah mikroskop majemuk. Dengan mikroskop kita dapat mengamati sel bakteri yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Pada mikroskop majemuk mempunyai banyak lensa objektif yang berfungsi untuk melihat langsung preparat yang nantinya diteruskan kepada lensa okuler dan pada akhirnya berakomodasi dengan mata kita sehingga kita dapat melihat benda mikroskopik tersebut (sulaiman, 2013).

      4.      Mikroskop Stereo

Mikroskop stereo (Zoom Stereo Microscope) memiliki fungsi untuk melihat objek yang membutuhkan perbesaran tidak terlalu besar. Di Laboratorium Mikrobiologi, mikroskop stereo biasanya digunakan untuk mengamati secara detail bentuk koloni dan jamur (Sinta, 2013).

      5.      Spektrophotometer

Spektrofotometer yaitu alat yang berfungsi untuk mengukur kekeruhan suspensi sel dengan cara menentukan jumlah cahaya dilewatkan dari suatu sumber cahaya monokromatik yang dilewati oleh suatu sel fotoelektrik yang dihubungkan dengan suatu galvanometer, sehingga jumlah cahaya yang dilewatkan dapat diukur. Prinsip kerjanya adalah pendugaan pertumbuhan mikroba secara turbidimetri (Rovix,2009).


      6.      Hot Plate

 Hotplate berfungsi untuk mengaduk larutan dan membuat agar larutan tetap hangat. Cara Kerja: Alat dihubungkan dengan listrik. Kemudian Disimpan ditempat yang tahan panas (mis. gelas piala) pada hot plate. Atur suhu dengan memutar alat pengatur suhu dan untuk mengaduk dengan mengatur putaran stir yang didalam wadahnya dimasukan magnetik stirrer. Setelah selesai, pengatur suhu dan stir diposisikan dalam kondisi off dan alat dimatikan (Mega, 2011).

      7.      Shaker

Shaker digunakan untuk mengaduk larutan zat sehingga terbentuk larutan yang homogen. Prinsip kerja alat ini ialah dengan meletakkan tabung erlenmeyer di atas wadah shaker, kemudian menyalakan shaker untuk mengocok larutan yang ada di dalam tabung Erlenmeyer (Mega, 2011).


      8.      Autoklaf

Autoclave adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15 lbs) selama kurang lebih 15 menit. Penurunan tekanan pada autoklaf tidak dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh microorganisme. Autoklaf terutama ditujukan untuk membunuhendospora, yaitu sel resisten yang diproduksi oleh bakteri, sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan, dan antibiotik. Pada spesies yang sama, endospora dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang dapat membunuh sel vegetatif bakteri tersebut. Endospora dapat dibunuh pada suhu 100 °C, yang merupakan titik didih air pada tekanan atmosfer normal. Pada suhu 121 °C, endospora dapat dibunuh dalam waktu 4-5 menit, dimana sel vegetatif bakteri dapat dibunuh hanya dalam waktu 6-30 detik pada suhu 65 °C (Ela, 2013).

Sterilisasi basah biasanya dilakukan di dalam autoclave uap yang mulai diangkat dengan menggunakan uap air jenuh pada suhu 121 C selama 15 menit. Adapun alasan digunakannya suhu 121 C itu disebabkan oleh tekanan 1 atm pada ketinggian permukaan laut. Autoclave merupakan alat yang essensial dalam setiap laboratorium mikrobiologi, ruang sterilisasi di rumah-rumah sakit serta tempat-tempat lain yang memproduksi produk steril. Pada umumnya (tidak selalu) autoclave dijalankan padaa tekanan kira-kira 15-16 per  (5 kg/cm2) pada suhu 121 . Waktu yag diperlukan untuk sterilisasi bergantung pada sifat bahan yang disterilkan, tipe wadah dan volume bahan. Misalnya 1000 buah tabung reaksi yang masing-masing berisi 10 ml medium cair dapat disterilkan dalam waktu 10-15 menit pada suhu 121 C, sedangkan jumlah medium yang sama bila ditempatkan dalam wadah 10 wadah berukuran 1 liter akan membutuhkan 1 liter akan membutuhkan waktu 20-30 menit paa suhuyang sama untuk menjamin tercapainya sterilisasi. (Pelczar & Schan, 1986)

      9.      Waterstiller


Water stiller merupakkan alat yang digunakan untuk menyaring larutan atau untuk menyaring air agar air tersebut steril dan tidak mengandung zat-zat lain atau agar tidak mengandung mineral lain (sulaiman, 2013).

      10.  Laminar Air Flow

Selain alat sterilisasi ada juga jenis alat yang dikhususkan untuk pengerjaan mikroba, seperti Laminar Air Flow dan enkas. Laminar air flow ditujukan untuk pengerjaan bakteri, sedangkan enkas digunakan untuk perkembangbiakan jamur dan kapang. Kedua alat ini telah dilengkapi dengan sinar UV (apabila dihidupkan) untuk menghambat pertumbuhan mikroba (Hadiutomo, 1990).

       11.  Incubator


Inkubator adalah alat dengan suhu atau kelembaban tertentu yang digunakan untuk menginkubasi atau memeram mikroba. Kisaran suhu untuk inkubator produksi Heraeus B5042 misalnya adalah 10-70oC. Suhu di dalam  inkubator konstan dan dapat diatur sesuai dengan  tujuan  inkubasi. Di dalam laboratorium mikrobiologi digunakan untuk menumbuhkan bakteri pada suhu tertentu, menumbuhkan ragi dan jamur, menyimpan biakan murni mikroorganisme I pada suhu rendah. Adapun ciri dari inkubator adalah memiliki sekat untuk menumbuh kembangkan mikroba, dalam inkubator terdapat sekat kaca pada pintunya yang berfungsi untuk mempermudah melihat mikroba yang sedang diinkubasi tanpa membuka dan benutup bagian dalam dari inkubator sehingga suhunya tetap terjaga. Prinsip kerjanya yaitu mengubah energi listrik menjadi energi panas. Kawat nikelin akan menghambat aliran elektron yang mengalir sehingga mengakibatkan peningkatan suhu kawat (Wula, 2013).






DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2011. Laporan Praktikum Mikrobiologi. http://teenagers-moeslim.blogspot.com. Di akses pada tanggal 24 Maret 2015 pukul 14.00 WIB

Ela. 2013. Tugas Instrumentasi XI Autoclave. http://elagadisimut.blogspot.com/2013/01/tugas-instrumentasi-xi-autoclave-dan.html. Di akses pada tanggal 23 Maret 2015 pukul 20.00 WIB

Hadiutomo. 1990. Mikrobiologi Dasar Jilid I. Jakarta: Erlangga.

 Indra. 2008, http//ekmon-saurus/bab-3-Sterilisasi/.htm. Di akses tanggal 24 Maret 2015 pukul 14.00 WIB

Mega. 2011. Laporan Mikrobiologi Pengenalan Alat.

Pelczar,M J; Chan. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 2. Jakarta: UI-Press.

Rovix. 2009.Alat-alat Laboratorium Mikrobiologi. http://rofix.wordpress.com/2009/03/08/alat-alat-laboratorium-mikrobiologi/. Di akses pada tanggal 24 Maret 2015 pukul 14.15 WIB

Sinta. 2013. Laporan Mikrobiologi Pengenalan Alat.

Sulaiman. 2013. Mengenal Peralatan Laboratorium.
WIB

Widodo, DS. 2010. Kimia Analitis Kuantitatif. Jakarta : Graha Ilmu 





 
Envy White Rose Blogger Template by Ipietoon Blogger Template